Perempuan PGRI, PSLCC, dan LKPP PGRI

 Makalah 

Perempuan PGRI, PSLCC, dan LKPP PGRI

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ke-PGRI-an

Dosen Pengampu: Dr. M. Bayu Firmansyah, M.Pd



 

 

Disusun Oleh :

1.      Ahmad Maulana Abrori              (24157201004)

2.      Ilmi Cynthia Putri                      (24157201022)

 

 

 

FAKULTAS TEKNOLOGI DAN SAINS

PROGRAM STUDI ILMU KOMPUTER

UNIVERSITAS PGRI WIRANEGARA

MEI 2025



 

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul "Perempuan PGRI, PSLCC, dan LKKP PGRI". Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah Kelembagaan Organisasi.

Makalah ini bertujuan untuk menganalisis tiga perangkat penting dalam organisasi PGRI, yaitu Perempuan PGRI, PSLCC (Smart Learning and Character Center), dan LKKP (Lembaga Kajian Kebijakan Pendidikan). Ketiganya memiliki kontribusi yang signifikan dalam pengembangan kapasitas guru, digitalisasi pendidikan, dan penyusunan kebijakan berbasis data.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, terutama kepada dosen pengampu dan rekan-rekan yang memberikan dukungan serta referensi. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan ini, sehingga kami sangat mengharapkan saran dan masukan yang membangun.

Pasuruan, Mei 2025


Kelompok 7

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR.. 1

BAB I. 3

PENDAHULUAN.. 3

1.1       Latar Belakang. 3

1.2       Rumusan Masalah. 4

1.3       Tujuan. 4

BAB II. 4

PEMBAHASAN.. 4

2.1 Perempuan PGRI. 4

2.2 PSLCC PGRI (Smart Learning and Character Center) 5

2.3 LKKP PGRI (Lembaga Kajian Kebijakan Pendidikan) 5

2.4 Analisis Sinergi Antar Perangkat 5

BAB III. 6

PENUTUP. 6

3.1 Kesimpulan. 6

3.2 Saran. 6

 

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Organisasi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) sebagai wadah profesional guru memiliki perangkat organisasi yang sangat berperan dalam memperkuat fungsi kelembagaan. Tiga di antara perangkat tersebut adalah Badan Khusus Perempuan PGRI, PGRI Smart Learning and Character Center (PSLCC), dan Lembaga Kajian Kebijakan Pendidikan (LKKP).

Badan Khusus Perempuan PGRI memiliki visi untuk memberdayakan perempuan dalam dunia pendidikan. Berdasarkan penelitian Fadeli dan Musyarofah (2022), keberdayaan perempuan guru diukur melalui teori ACTORS yang meliputi aspek kewenangan, rasa percaya diri, keyakinan, kesempatan, tanggung jawab, dan dukungan.

Sementara itu, PSLCC hadir sebagai respons terhadap tantangan digitalisasi pendidikan. PSLCC merupakan pusat pelatihan dan peningkatan kompetensi guru berbasis teknologi dan karakter. Keberadaan PSLCC sangat penting dalam membentuk guru yang tangguh di era digital (Dedi, 2022; PWMU, 2024).

Adapun LKKP berperan sebagai lembaga kajian dan analisis kebijakan pendidikan, berfungsi memberi masukan strategis kepada organisasi. Dalam SK PKO PGRI Sumenep (2022), LKKP termasuk dalam struktur resmi perangkat kelengkapan organisasi PGRI.

 

1.2  Rumusan Masalah

  1. Apa peran dan fungsi Perempuan PGRI dalam organisasi?
  2. Bagaimana PSLCC PGRI berkontribusi dalam pengembangan profesionalisme guru di era digital?
  3. Apa fungsi strategis LKKP PGRI dalam pengembangan kebijakan pendidikan?

1.3  Tujuan

  1. Menjelaskan peran Perempuan PGRI dalam pemberdayaan anggota.
  2. Menganalisis kontribusi PSLCC terhadap kompetensi guru.

3.      Menguraikan peran LKKP sebagai lembaga strategis dalam PGRI


BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Perempuan PGRI

Badan Khusus Perempuan PGRI (BKP PGRI) merupakan perangkat kelengkapan organisasi PGRI yang memiliki visi memberdayakan perempuan guru melalui peningkatan kapasitas dan keahlian. Berdasarkan hasil penelitian Fadeli dan Musyarofah (2022), peran Perempuan PGRI sangat signifikan dalam membentuk guru perempuan yang berdaya melalui pendekatan Teori ACTORS. Teori ini mengukur tingkat kewenangan, kepercayaan diri, keyakinan, kesempatan, tanggung jawab, dan dukungan yang dimiliki oleh anggota BKP PGRI.

Dalam penelitian tersebut, ditemukan bahwa mayoritas perempuan PGRI memiliki tingkat pemberdayaan yang tinggi, terutama mereka yang sudah menduduki posisi strategis di sekolah, seperti kepala sekolah atau pengawas. Mereka juga menunjukkan rasa percaya diri dan kemampuan tinggi dalam memengaruhi perubahan, baik di dalam organisasi maupun di masyarakat. Meski demikian, masih ditemukan beberapa keterbatasan dalam hal peluang dan akses terhadap pengambilan keputusan di tingkat pusat.

Kegiatan utama yang dilakukan oleh Perempuan PGRI mencakup pelatihan kepemimpinan, advokasi kebijakan pendidikan berbasis gender, serta penguatan kapasitas guru perempuan dalam teknologi dan metode pembelajaran. BKP PGRI tersebar di berbagai tingkatan organisasi dari cabang, kabupaten/kota, provinsi, hingga pusat, dengan masa bakti yang mengikuti siklus kepengurusan PGRI. Dalam SK PKO PGRI Sumenep (2020–2025), struktur formal perangkat ini diakui sebagai bagian integral organisasi.

2.2 PSLCC PGRI (Smart Learning and Character Center)

PSLCC adalah pusat pengembangan pembelajaran berbasis teknologi informasi yang dibentuk PGRI sebagai respons terhadap revolusi industri 4.0 dan transformasi digital dalam dunia pendidikan. Menurut Dedi (2022), PSLCC hadir sebagai bentuk nyata dari inovasi organisasi guru dalam mendampingi dan meningkatkan kompetensi guru melalui pelatihan berbasis digital, karakter, dan pedagogik.

PSLCC Jawa Timur disebut sebagai yang terbesar di Indonesia (PWMU, 2024), dengan fasilitas lengkap seperti e-learning, e-pustaka, e-video pembelajaran, serta pelatihan berbasis Google Workspace (Google Classroom, Google Docs, dll). Kegiatan PSLCC mencakup workshop gamifikasi pembelajaran, penyusunan soal digital, serta pelatihan penggunaan teknologi dalam kelas daring. PSLCC menjadi ruang kolaboratif guru untuk saling berbagi pengalaman dan strategi mengajar.

Artikel dari PGRI Jawa Tengah (2025) dan PGRI Kabupaten Bandung (2025) menggarisbawahi pentingnya keberadaan SLCC sebagai infrastruktur strategis dalam meningkatkan profesionalisme guru. Tantangan utama yang dihadapi adalah keterbatasan akses terhadap SLCC di daerah, keterbatasan kompetensi digital guru senior, serta minimnya dana operasional.

Namun demikian, PSLCC telah berhasil membuka ruang belajar alternatif dan fleksibel yang sangat dibutuhkan dalam situasi pascapandemi. Guru dapat mengikuti pelatihan secara asinkron, mengakses materi pembelajaran terbaru, dan memperbarui kompetensinya tanpa harus meninggalkan ruang kelas.

2.3 LKKP PGRI (Lembaga Kajian Kebijakan Pendidikan)

LKKP PGRI merupakan lembaga internal yang bertugas melakukan kajian strategis dan analisis kebijakan pendidikan di lingkungan PGRI. Peran utama LKKP adalah menyediakan data, riset, dan rekomendasi kebijakan yang akan digunakan oleh pengurus PGRI dalam advokasi ke pemerintah maupun dalam perumusan program organisasi.

Dalam dokumen SK PKO PGRI Sumenep, LKKP tercatat sebagai bagian dari struktur formal perangkat organisasi. Lembaga ini menjalankan berbagai kegiatan seperti penyusunan policy brief, pelaksanaan forum diskusi ilmiah, serta kerjasama penelitian dengan akademisi dan lembaga luar. Fungsi LKKP menjadi semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan akan kebijakan pendidikan yang berbasis bukti (evidence-based policy).

LKKP juga menjadi penghubung antara dunia akademik dan praktik lapangan dalam pendidikan. Dengan menampung aspirasi guru dari berbagai daerah dan mengkaji kebijakan pemerintah pusat, LKKP berperan dalam menjaga keseimbangan antara aspirasi profesional guru dan tuntutan kebijakan nasional.

2.4 Analisis Sinergi Antar Perangkat

Ketiga perangkat organisasi PGRI—Perempuan PGRI, PSLCC, dan LKKP—memiliki fungsi yang berbeda namun saling melengkapi. Perempuan PGRI berfokus pada penguatan gender dan kepemimpinan perempuan di sektor pendidikan. PSLCC menjadi motor inovasi dalam transformasi digital dan penguatan kompetensi guru. Sementara itu, LKKP bertindak sebagai pemikir strategis organisasi dengan menyediakan kajian dan riset untuk pengambilan keputusan.

Sinergi ketiganya terlihat dalam berbagai kegiatan organisasi. Sebagai contoh, PSLCC menyediakan pelatihan digital yang bisa dimanfaatkan oleh anggota Perempuan PGRI. LKKP dapat menindaklanjuti evaluasi program pelatihan PSLCC untuk menghasilkan kebijakan baru yang lebih adaptif. Begitu pula Perempuan PGRI dapat menyuarakan isu-isu spesifik yang kemudian dikaji lebih dalam oleh LKKP dan diterjemahkan menjadi program pelatihan oleh PSLCC.

Dengan memperkuat sinergi ini, PGRI dapat tampil sebagai organisasi profesi guru yang inklusif, adaptif, dan berorientasi pada masa depan. Tantangan seperti ketimpangan digital, bias gender, serta lemahnya basis kebijakan dapat diatasi dengan kolaborasi antarlembaga internal PGRI secara terstruktur dan berkelanjutan.

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Perempuan PGRI, PSLCC, dan LKKP merupakan tiga perangkat kelengkapan organisasi dalam tubuh PGRI yang memiliki peran strategis dalam memperkuat eksistensi dan fungsi organisasi guru di Indonesia. Badan Khusus Perempuan PGRI hadir sebagai ruang pemberdayaan dan peningkatan kapasitas guru perempuan. Berdasarkan pendekatan teori ACTORS, terbukti bahwa keberdayaan perempuan guru meningkat secara signifikan melalui penguatan aspek kewenangan, kompetensi, kepercayaan diri, kesempatan, tanggung jawab, dan dukungan.

PSLCC PGRI tampil sebagai inovasi organisasi dalam menjawab tantangan digitalisasi pendidikan. Kehadiran PSLCC, terutama di Jawa Timur, menunjukkan komitmen kuat organisasi dalam menyediakan pelatihan dan pengembangan profesionalisme guru berbasis teknologi. PSLCC berhasil menjadi pusat kolaborasi guru dalam menciptakan pembelajaran inovatif dan responsif terhadap perkembangan zaman.

Sementara itu, LKKP memiliki fungsi vital dalam menyusun kajian strategis dan analisis kebijakan pendidikan. LKKP menjembatani antara aspirasi guru, data lapangan, dan perumusan kebijakan yang lebih inklusif dan berbasis bukti. Peran LKKP semakin penting dalam menghadapi dinamika kebijakan pendidikan yang cepat berubah.

Ketiga perangkat ini saling bersinergi dan mendukung satu sama lain. Sinergi antara Perempuan PGRI, PSLCC, dan LKKP tidak hanya memperkuat internal organisasi, tetapi juga berkontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional.

3.2 Saran

1.      Penguatan Kelembagaan: PGRI perlu memperkuat struktur kelembagaan ketiga perangkat ini, baik dalam hal legalitas, sumber daya manusia, maupun anggaran.

2.      Pemerataan Akses PSLCC: Diperlukan perluasan fasilitas dan pelatihan PSLCC hingga ke tingkat kabupaten dan kecamatan agar semua guru dapat mengaksesnya.

3.      Integrasi Program Berbasis Data: LKKP perlu diberdayakan lebih aktif untuk menindaklanjuti hasil program Perempuan PGRI dan PSLCC agar kebijakan yang lahir bersifat adaptif dan solutif.

4.      Kolaborasi Lintas Perangkat: Diperlukan forum rutin yang mempertemukan ketiga perangkat agar terjadi pertukaran informasi, penyelarasan program, dan perumusan kebijakan terpadu.

5.      Peningkatan Publikasi dan Advokasi: Program dan capaian dari ketiga perangkat harus dipublikasikan secara luas untuk meningkatkan kepercayaan anggota dan mendorong advokasi kebijakan yang lebih kuat.

Dengan optimalisasi peran masing-masing dan sinergi yang erat, Perempuan PGRI, PSLCC, dan LKKP akan menjadi pilar penting dalam mewujudkan visi PGRI sebagai organisasi profesi guru yang kuat, progresif, dan berdaya saing di tingkat nasional dan global.


Daftar Pustaka

Fadeli, M., & Musyarofah, L. (2022). Analisis Teori ACTORS: Peran Perempuan PGRI Jawa Timur dalam Pemberdayaan Masyarakat. Jurnal Ilmiah Manajemen Publik dan Kebijakan Sosial, 6(1), 24–34. PDF

 Dedi, M. (2022). Peran PGRI di Era Digital: Peluang dan Tantangan. Jurnal Sosioedukasi, 11(1), 81–88. https://ejournal.unibabwi.ac.id/index.php/sosioedukasi/index

PGRI Jawa Timur. (2022). Keputusan Pengurus PGRI Provinsi Jawa Timur Nomor 33/Kep/JTI/XXII/2022 tentang Susunan dan Personalia Pengurus Perangkat Kelengkapan Organisasi PGRI Kabupaten Sumenep Masa Bakti 2020-2025. PDF

Wikipedia. (2024). Persatuan Guru Republik Indonesia. Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Persatuan_Guru_Republik_Indonesia

PGRI Jawa Tengah. (2025). SLCC PGRI Jawa Tengah Kupas Tuntas Inovasi Digitalisasi Pembelajaran. Diakses dari https://www.pgrijawatengah.com/2025/03/slcc-pgri-jawa-tengah-kupas-tuntas.html

 PGRI Kabupaten Bandung. (2025). SLCC PGRI Kabupaten Bandung Bergerak: Diharapkan Lahirkan Inovasi dalam Keprofesian Guru. Diakses dari https://hibar.pgrikabupatenbandung.id/slcc-pgri-kabupaten-bandung-bergerak-diharapkan-lahirkan-inovasi-dalam-keprofesian-guru/


 

Komentar